Wednesday, 24 September 2014

Yang Menutupi

Angin bertiup semakin kencang. Penglihatanku samar-samar, seperti ada yang menutupi tapi tak jelas apakah itu. Aku mendelik lebih dalam, aku hampir tak bisa melihat apapun. Mungkin awan gelap telah menutupi segalanya. Tidak hanya warna langit yang berubah, tetapi juga dirinya yang menjadi lebih tertutup. Aku tidak memaksa matahari untuk memancarkan seluruh cahayanya kepadaku. Aku hanya bersyukur atas sebagian cahaya yang telah diberikan kepadaku. Aku menjalani hari-hariku seperti biasa. Selalu ada matahari setiap hari yang juga hidup beriringan, walau aku tak sanggup melihatnya langsung karena akan membakar mataku, tetapi jika merunduk aku malah akan mensia-siakan kesempatanku. Tuhan telah membuat semua seadil-adilnya, tinggal bagaimana kita yang mengolahnya agar bisa terlihat seimbang tidak hanya di mata kita, tetapi juga di mata orang lain. Kini matahari telah tertutup lagi oleh awan gelap itu, dan mungkin kali ini... selamanya. Apa aku harus diam saja? Atau menunggu inisiatif orang lain untuk menyingkirkan awan gelap itu?

Tidak! Aku tidak boleh menyerah. Aku harus membuat matahari itu kembali beriringan denganku dan membuang jauh-jauh awan gelap itu. Awan gelap harus disingkirkan dengan penuh kasih agar iapun dapat pergi tanpa ada masalah baru. Apa jadinya-kah bila dengan kekerasan? Pastinya Ia malah tak mau pergi atau akan pergi dengan terpaksa, dan hanya untuk sementara. Lagipula, apa yang kita usahakan dengan sungguh-sungguh, hasilnya pun akan berbalik kembali kepada kita. Bantu aku Tuhan, hanya atas izin-MU lah aku bisa mengubah segalanya dengan baik. Teman, bantu aku juga dengan motivasi kalian.Aku pun tau, awan gelap sesekali diperlukan agar aku juga tidak bosan melihat sinar-sinar cahaya, juga sebagai penyeimbangnya.

No comments:

Post a Comment