Seribu
langkah akan bisa ditempuh, dengan sebuah langkah pertama. Arra menginjakkan
kaki kanannya memasuki gerbang sekolah. Seragam putih abu yang masih baru
dengan atribut lengkap, serta tas coklat dan sneakers hitamnya, Ia memberanikan
diri menempuh langkah-langkah selanjutnya. Ini memang bukan pertama kalinya
Arra memasuki tempat ini, namun hari pertama sekolah dengan menggunakan seragam
putih abu mempunyai suasana yang berbeda dengan waktu-waktu sebelumnya.
“Hai
Raaa!”, sapa seseorang yang berdiri beberapa meter darinya.
“Eh,
hai Rii! Kamu kelas berapa? Aku belum liat papan kelas nih.”
“Aku
X-IPA5, kita sekelas Ra”, jawab Ari ramah.
“Serius
Ri?” Tanya Arra dengan nada senang.
“Iyaaa
Arra jeleekkk, orang jelek harus percaya sama orang ganteng dong”, lanjut Ari
sinis.
“Ih,
Ari mulai kan kepedeannya”, respon Arra rendah.
“Ngambek
mulu sih Ra, Cuma becanda juga. Haha. Jangan ngambek dong Arra cantikkk”
Arra pun langsung memegang tas Ari sambil sedikit mendorongnya ke depan pertanda untuk segera berjalan menuju kelas mereka. Ari bukanlah teman SMP, SD, TK, maupun teman main Arra sedari kecil. Ari baru pindah rumah dua bulan lalu bersama keluarganya. Walaupun belum lama kenal, mereka sudah sangat dekat karena jarang ada remaja seumuran mereka di kompleknya.
Arra pun langsung memegang tas Ari sambil sedikit mendorongnya ke depan pertanda untuk segera berjalan menuju kelas mereka. Ari bukanlah teman SMP, SD, TK, maupun teman main Arra sedari kecil. Ari baru pindah rumah dua bulan lalu bersama keluarganya. Walaupun belum lama kenal, mereka sudah sangat dekat karena jarang ada remaja seumuran mereka di kompleknya.
KRIIING,
KRIIING, KRIIING. Jam beker putih itu bernyanyi lebih pagi hari ini, pastinya
Mama yang mengubah jarum alarm itu. Beberapa milidetik kemudian, Mama membuka
pintu kamar anak sematawayangnya itu. Arra terbangun dari tidur pulasnya dan
merenggangkan otot-ototnya setelah bangun tidur, lalu segera bersiap untuk ke
sekolah.
“Arraaa,
cepetan sini sarapan dulu”, panggil Mama dari lantai bawah.
“Iya maa, otw ruang makan nihh.”
“Iya maa, otw ruang makan nihh.”
Setelah
sarapan Arra berpamitan kepada kedua orangtuanya yang juga masih ada di ruang
makan, lalu mengikat rambut panjangnya sambil berjalan ke luar rumah.
“Pagi neng Arra,
hari pertama ga mau Bapak anterin nih?”, tanya supir keluarga Arra di halaman depan.
“Ga
usah pak, saya naik bus aja. Duluan ya paakk.” Orangtua Arra memanglah orang berada
dengan fasilitas lengkap di rumahnya, namun Arra bukan tipe anak yang suka ke
sana-sini di antar-jemput, Ia lebih suka menjadi mandiri. Menurutnya memakai
kendaraan umum ke sekolah akan menghemat bahan bakar, apalagi bisa membantu
mengurangi polusi di bumi. Udara pagi masih sangat bersahabat, Arra menarik
nafas dalam-dalam lalu menghempaskannya berkali-kali.
Hari
pertama di sekolah baru bukanlah suasana biasa bagi setiap orang, namun semua
murid baru harus bisa cepat beradaptasi dengan suasana dan teman-teman baru. Bu
Jenna memasuki kelas X-IPA 5, “Selamat pagi anak-anak. Perkenalkan, nama saya
Jennahara Melati, panggil saja Bu Jenna.”
“Pagi
Bu Jennaaaaa”, sapa murid-murid semangat. Kemudian Bu Jenna menceritakan
sedikit pengalamannya selama menjadi wali kelas di tahun-tahun sebelumnya di
sekolah ini, juga tentang seluk beluk sekolah ini atau yang biasa dikenal
dengan Wiyata Mandala.
Satu
minggu masih belum cukup untuk Arra menentukan di ekskul mana Ia akan
bergabung, “Atau mungkin aku ikut OSIS ya? Tapi nanti pasti sibuk,” ucapnya
dalam hati. Banyak murid baru yang tertarik untuk bergabung dengan OSIS
sekolah, walaupun tidak kalah banyak yang tertarik ekskul Cheerleading dan
Basket yang biasanya dikenal sebagai ekskul keren di SMA.
Dua
minggu kegiatan belajar mengajar berlangsung, jumlah murid di kelas Arra
bertambah satu menjadi 34. Dina lah yang membuat angka itu menjadi genap,
sehingga berarti semua akan mendapatkan teman duduk berpasangan karena
jumlahnya yang tidak lagi ganjil. Dina sudah mendaftar di sekolah ini berbarengan
dengan murid-murid lainnya. Namun Ia baru kembali lagi ke Indonesia dua hari
lalu bersama orangtuanya.
Arra
termasuk orang yang supel sehingga Ia-lah yang paling cepat dekat dengan Dina dan Arra pun bisa membuat suasana agar Dina
tidak canggung di kelas barunya itu. Mereka menjadi sahabat dekat tetapi mereka
juga tetap bergaul dengan teman-teman lainnya, agar tidak membuat mereka ansos
atau anti social.
Sampai
akhirnya, sesuatu yang lazim dirasakan murid-murid SMA mereka rasakan. Isi SMA
merupakan anak-anak remaja yang belum sepenuhnya dewasa, namun sudah bisa
berpikir untuk menaruh hatinya pada orang lain. Biasanya sih, orang-orang
menyebutnya dengan masa-masa indah saat SMA.
“Din,
liat deh itu di sana.”
“Liat
apaan Ra? Guru Matematika kita yang ganteng? Atau guru Fisika yang killer
banget?”
“Bukan
Din, itu lohh yang pake vest garis-garis biru, ganteng banget. Ketua ekskul apa
ya dia? Lupa nih.”
“Oh
Kak Bima? Dia kan ketua Paskibra Ra, dia ramah banget orangnya.”
“Kamu
ikut ekskul itu kan Din? Kalo aku mau ikut juga boleh kan? Nanti pulang sekolah
temenin aku daftar ya”, kata Arra semangat.
“Arra
yaampun, kalo ada maunya aja semangat banget.”
“Ohiya
daftarnya langsung ke Kak Bima ya jangan ke kakak yang lain, terus kenalin aku
sama dia juga, hehe.”
“Dia
udah punya pacar Ra, nanti dimarahin pacarnya lohh.”
“Ya
biarinlah, tujuan aku kan cuma mau kenal bukan mau macarin Kak Bima Din”, jawab
Arra memelas.
“Hahahaha
Arra, aku becanda dia masih single kok, tapi emang sih ada kakak kelas yang
naksir dia dari dulu tapi dianya Stay
Cool aja.”
“Update
banget sih kamu Din.”
Keduanya
lalu berjalan kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran selanjutnya. Materi
kelas X memanglah belum seberat kelas XI dan XII, namun karena kurikulum baru
yang dibuat pemerintah Arra dan Dina sering membaca buku-buku di perpustakaan
hampir setiap istirahat atau kalau ada jam kosong, tidak hanya mengandalkan
penjelasan guru di kelas.
“Baik
anak-anak pelajaran hari ini selesai, sampai bertemu besok”, pelajaran hari ini
diakhiri pelajaran Sejarah, banyak
sekali murid tertidur di sudut-sudut kelas, apalagi di bagian belakang.
“Aku
ke OSIS dulu ya Din, nanti aku nyusul ke ekskulnya. Ada agenda penting hari
ini.”
“Okedeh
Raa, aku duluan yaa. See you darl.”
Arra
sibuk menyiapkan acara Peringatan Bulan Bahasa bersama teman-teman lainnya,
karena acara tinggal seminggu lagi.
“Mana
temen kamu yang waktu itu Din?” tanya Kak Bima.
“Emm
itu kak, Arra, dia masih di OSIS.”
“Kapan
dia bisa ngumpul ke sini? Takut banyak ketinggalan materi baru.”
Sementara
di sudut lain sekolah gadis berambut panjang yang sedang menyiapkan perlengkapan
acara melihat jam di tangan kirinya, ahh sudah pukul 16.04. “Kak Lala, aku izin
ya kak mau ke ekskul dulu”, kata Arra kepada koordinatornya.
“Yasudah,
tapi besok kamu datang pagi lagi ya, panitia lain juga.”
“Okedeh
kak siaap, makasih kak!”
Arra
berjalan cepat sekali menuju Sekretariat Paskibra lantai dua lalu bergabung
dalam forum yang sedang dibuka oleh sang Ketua karena tidak mau ketinggalan
momen-momen bertemu Kak Bima secara langsung. Kali ini mereka sedang
membicarakan untuk rencana pengiriman beberapa anggota Paskibra yang masih kelas X untuk mengikuti seleksi
menjadi Paskibraka Tingkat Nasional, Provinsi, maupun Kota. Setelah mengetahui
semua persyaratan yang harus dilaksanakan Arra pun tertarik untuk mengikuti
seleksi tersebut dan kebetulan faktor tinggi yang dibutuhkan juga ada pada diri
Arra.
Kurang
lebih seminggu tiga kali para calon yang akan mengikuti seleksi mengadakan
latihan fisik di lapangan sekolah, terkecuali Arra yang sesekali izin karena Ia
juga bertanggung jawab sebagai panitia acara-acara sekolah lainnya yang
diselenggarakan oleh OSIS. Namun Kak Bima dan Kakak-kakak yang lain masih
memakluminya karena waktu seleksi masih beberapa bulan lagi.
“Hari
ini dan besok kita libut latihan fisik ya, tapi kita ngumpul aja sharing-sharing.”
“Oh
iya kak, okedehh makasih ya kak”, kata Arra semangat.
“Semangat
banget sih Ra mentang-mentang Kak Bima yang ngomong. Cuma kamu lohh yang
suaranya kenceng, ahaha”, ledek Dina kepada Arra.
“Apaan
sih Din, haha enggak kok aku emang semangat aja kita udah mau seleksi. Semangat
juga buat deketin Kakak vest garis-garis biru”
“Oh
iya Arra, kakak belum punya kontak kamu, boleh minta nomor handphone-nya? Nanti biar gampang hubungin personalnya.”
Ini mimpi apa bukan, pikirnya.
Diam-diam, tangan kanannya mencubit pahanya sendiri. Aduh! Aku gak mimpi. “Oh iya boleh kak.” Jawab Arra sambil terus melihat ke arah vest bermotif garis-garis
biru itu.
Awan
kelabu mulai berdatangan, mendung sekali cuaca sore ini. Angin kencang pun
beterbangan menerjang pohon-pohon. Dina sudah pulang siang tadi, maka Arra
pulang sendirian jika sudah sore begini. Tiba-tiba, “Arra, ngapain di pos
satpam sendirian?” Panggilan itu menghentikan lamunan Arra, “Eh Kak Bima?”
“Kamu
ngapain di sini? Kalau sore kamu jadi satpam?”, goda Kak Bima
“Enggak.
Ini kak, itu mendung, jadi itu, lagi nunggu di jemput aja”, jawab Arra
terbata-bata.
“Mau
bareng kakak? Udah sepi loh sekolahnya nanti kamu kenapa-kenapa lagi.”
“Ga usah kak, supir aku udah mau jalan kak,” lanjut Arra sambil pura-pura mengecek ponselnya.
“Kamu punya supir? Kenapa biasanya naik bus ga di anter-jemput?”
“Ga usah kak, supir aku udah mau jalan kak,” lanjut Arra sambil pura-pura mengecek ponselnya.
“Kamu punya supir? Kenapa biasanya naik bus ga di anter-jemput?”
“Ehh
iya kak, ga papa, lebih seru naik bus”, jawab Arra bingung. Darimana Kak Bima tau aku tiap hari naik bus, jadi selama ini Kak Bima
merhatiin aku? Kata Arra dalam hati kegeeran. Arra menahan pandangannya ke
arah bawah menahan bibirnya untuk senyum lebih lebar lagi.
“Jadi
mau bareng gak nih?”
“Yaudah
deh kak, aku bilang ke supir aku dulu.”
Arra
menaiki motor sport Kak Bima dan motor itu segera meluncur cepat kearah
perumahan rumah Arra.
“Gimana
persiapan kamu buat seleksi?”
“Udah
disiapin kak nanti mau dicek lagi. Emm Abis ini belok kanan kak terus lurus
aja.” Kak Bima hanya diam mendengarkan tanpa menganggapi.
“Makasih
ya kak, mau masuk dulu kak?” tanya Arra ragu-ragu.
“Nanti
lain kali aja Ra. Duluan ya.”
Motor
Kak Bima hilang dari pandangan, Arra segera memasuki rumah sambil senyum-senyum
sendiri. Untungnya mamanya sedang tidak di rumah, maka tidak ada yang
memergokinya senyum-senyum sendiri selain pembantunya.
Tas
melompat ke tempat tidurnya, lalu Ia mengambil ponsel di saku bajunya dan
mengetik nama Dina lalu menyentuh screen bertulis call. Arra asik bercerita
dengan Dina membicarakan pemilik vest garis-garis biru itu.
Tahun
2013 telah berganti menjadi 2014, maka semester baru pun dimulai. Arra dan Dina
mendapatkan posisi yang masih teratas di kelasnya. Selain itu, mereka juga
mendapatkan pengumuman bahwa mereka lolos tes seleksi calon Paskibraka tingkat
Provinsi, orangtua mereka ikut bangga atas prestasi anak-anaknya itu, begitu
juga orangtua murid-murid lainnya yang lolos seleksi. H-7 tanggal 17 Agustus
2014. Para calon Paskibraka yang sedang di asrama berlatih semakin
sungguh-sungguh untuk menghindari kesalahan nanti, apalagi masing-masing membawa
nama baik sekolah mereka.
Susah
payah para calon Paskibraka berbulan-bulan berlatih bersama. Jatuh bangun,
tegang, sedih, serius, juga canda tawa mereka lalui bersama. Banyak pengalaman
baru yang tidak bisa mereka dapatkan dimanapun, juga sikap dan attitude yang lebih baik.
Akhir
tahun lalu telah diadakan serah-terima jabatan seluruh ekskul di sekolah karena
murid kelas XII tidak lama lagi mengikuti Ujian Nasional. Maka berakhirlah masa
jabatan Kak Bima yang telah digantikan oleh Kak Ale.
17 Agustus 2014. Pagi-pagi
sekali, Kak Ale dan sebagian besar anggota paskibra sudah standby di tempat upacara berlangsung. Upacara penaikan dan
penurunan bendera di sore hari berlangsung lancar. Semua hadirin mengikuti
upacara dengan khidmat. Semua lega karena yang ditunggu-tunggu telah selesai,
apalagi para Paskibraka dan TNI yang bertugas pada kesempatan itu.
Arra
dan teman-teman lain yang telah selesai bertugas dan istirahat cukup, mereka
kembali ke sekolah dengan suasana baru dan sambutan dari teman-teman karena
bangga terhadap mereka. Tahun ajaran baru berarti juga Kak Bima telah lulus
dari sekolah ini. Tak ada lagi Kak Bima yang menjadi penyemangatnya di sekolah.
Hari ini hari
upacara pertama sekolah di tahun ajaran baru, di pengumuman pada akhir upacara di
sebutkan nama-nama murid yang telah bertugas menjadi Paskibraka di tingkat
Provinsi karena telah membawa nama baik sekolah. Juga setelah itu pengumuman
dan pemberian sertifikat kepada Juara I, II, dan III perkelas di akhir tahun
ajaran lalu.
“Kelas
X-IPA 5. Juara III Feandra Vanasya, Juara II Kris Dwi Ramadhan, Juara I…”
Jantungku
berdebar sangat cepat, aku sangat mengharapkan posisi itu walau kini Kak Bima
tak ada di sekolah ini lagi untuk melihatnya.
“Farrah
Milananditaaa”, lanjut Ibu guru yang sedang membacakan pengumuman.
Arra
sangat senang karena di akhir kelas X Ia bisa mendapatkan posisi teratas di
kelasnya. Lengkap sudah prestasi Arra di bidang akademik maupun
non-akademiknya. Kali ini Dina berada empat peringkat di bawah Arra tidak naik
maupun turun seperti semester sebelumnya. Namun Ia harus berlapang dada
mengetahui Arra mendapatkan sesuatu yang lebih darinya.
Lelah
sekali hari ini di sekolah, sesampainya di rumah ia memutuskan untuk
beristirahat di ruang tengah. Tiba-tiba ponselnya berbunyi tanda pemberitahuan
masuk. Ada satu pesan yang belum dibaca.
Selamat ya Ra, kamu sama teman-teman
yang lain udah nunjukkin yang terbaik di pengibaran kemarin. Kalian gak cuma
mengharumkan Paskibra angkatan kalian, tapi juga bawa nama sekolah kita. Jangan
lupain ilmu-ilmu yang kalian dapat saat pelatihan, bagi-bagi ke teman-teman
kalian yang lain. Ohiya aku denger-denger kamu juga juara I kelas ya? Selamat
lagi yaa, jangan tinggi hati dan lengah karena udah dapat posisi itu. Tingkatin
prestasi kamu, semangat Arraaa!!!
Sender : Kak Bima
Ya ampun, ini serius Kak Bima. Dari mana
Kak Bima tau aku Juara I? Pasti kerjaannya Dina nih, aduhh jadi malu. Mau bales
apa nih?
Belum
sempat Arra membalasnya, masuk satu pesan baru.
Oh iya, malam
ini kamu ada acara ga? Aku mau ngajak kamu ke café baru di deket perumahan
rumah kamu.
Sender : Kak Bima
Kemudian muncul
satu pesan di ponsel di seberang sana.
Eh boleh Kak, boleh.
It will be fun, but tadi siang
katanya Dina mau pergi sama kakaknya malam ini.
Sender : Arra
Oke, aku jemput
jam 7 ya, jangan dandan natural udah cantik kok Ra
Sender : Kak Bima
Oh my God, is this really happen to
me? Ok, aku siap-siap aja ah nunggu di
jemput kakak vest garis biru itu.
Tak
berapa lama kemudian, motor sport Kak Bima telah terparkir di depan rumah Arra.
Kak Bima memanglah Kak Bima, masih sama dengan vest andalannya bermotif
garis-garis bitu. Kini Arra menyadarinya, bahwa sesungguhnya usaha yang Ia
lakukan selama ini Ia kerjakan karena dirinya sendiri, bukan karena oranglain
apalagi pemilik vest garis-garis biru itu. Membuat bangga orangtua ataupun masalah
Kak Bima hanyalah hadiah dari hasil usahanya selama ini.
No comments:
Post a Comment