Thursday, 18 September 2014

Garis-garis Biru


                Seribu langkah akan bisa ditempuh, dengan sebuah langkah pertama. Arra menginjakkan kaki kanannya memasuki gerbang sekolah. Seragam putih abu yang masih baru dengan atribut lengkap, serta tas coklat dan sneakers hitamnya, Ia memberanikan diri menempuh langkah-langkah selanjutnya. Ini memang bukan pertama kalinya Arra memasuki tempat ini, namun hari pertama sekolah dengan menggunakan seragam putih abu mempunyai suasana yang berbeda dengan waktu-waktu sebelumnya.
                “Hai Raaa!”, sapa seseorang yang berdiri beberapa meter darinya.
                “Eh, hai Rii! Kamu kelas berapa? Aku belum liat papan kelas nih.”
                “Aku X-IPA5, kita sekelas Ra”, jawab Ari ramah.
                “Serius Ri?” Tanya Arra dengan nada senang.
                “Iyaaa Arra jeleekkk, orang jelek harus percaya sama orang ganteng dong”, lanjut Ari sinis.
                “Ih, Ari mulai kan kepedeannya”, respon Arra rendah.
                “Ngambek mulu sih Ra, Cuma becanda juga. Haha. Jangan ngambek dong Arra cantikkk”
                Arra pun langsung memegang tas Ari sambil sedikit mendorongnya ke depan pertanda untuk segera berjalan menuju kelas mereka. Ari bukanlah teman SMP, SD, TK, maupun teman main Arra sedari kecil. Ari baru pindah rumah dua bulan lalu bersama keluarganya. Walaupun belum lama kenal, mereka sudah sangat dekat karena jarang ada remaja seumuran mereka di kompleknya.

                KRIIING, KRIIING, KRIIING. Jam beker putih itu bernyanyi lebih pagi hari ini, pastinya Mama yang mengubah jarum alarm itu. Beberapa milidetik kemudian, Mama membuka pintu kamar anak sematawayangnya itu. Arra terbangun dari tidur pulasnya dan merenggangkan otot-ototnya setelah bangun tidur, lalu segera bersiap untuk ke sekolah.
                “Arraaa, cepetan sini sarapan dulu”, panggil Mama dari lantai bawah.
                “Iya maa, otw ruang makan nihh.”
                Setelah sarapan Arra berpamitan kepada kedua orangtuanya yang juga masih ada di ruang makan, lalu mengikat rambut panjangnya sambil berjalan ke luar rumah.
“Pagi neng Arra, hari pertama ga mau Bapak anterin nih?”, tanya supir keluarga Arra di  halaman depan.
                “Ga usah pak, saya naik bus aja. Duluan ya paakk.” Orangtua Arra memanglah orang berada dengan fasilitas lengkap di rumahnya, namun Arra bukan tipe anak yang suka ke sana-sini di antar-jemput, Ia lebih suka menjadi mandiri. Menurutnya memakai kendaraan umum ke sekolah akan menghemat bahan bakar, apalagi bisa membantu mengurangi polusi di bumi. Udara pagi masih sangat bersahabat, Arra menarik nafas dalam-dalam lalu menghempaskannya berkali-kali.
                Hari pertama di sekolah baru bukanlah suasana biasa bagi setiap orang, namun semua murid baru harus bisa cepat beradaptasi dengan suasana dan teman-teman baru. Bu Jenna memasuki kelas X-IPA 5, “Selamat pagi anak-anak. Perkenalkan, nama saya Jennahara Melati, panggil saja Bu Jenna.”
                “Pagi Bu Jennaaaaa”, sapa murid-murid semangat. Kemudian Bu Jenna menceritakan sedikit pengalamannya selama menjadi wali kelas di tahun-tahun sebelumnya di sekolah ini, juga tentang seluk beluk sekolah ini atau yang biasa dikenal dengan Wiyata Mandala.
                Satu minggu masih belum cukup untuk Arra menentukan di ekskul mana Ia akan bergabung, “Atau mungkin aku ikut OSIS ya? Tapi nanti pasti sibuk,” ucapnya dalam hati. Banyak murid baru yang tertarik untuk bergabung dengan OSIS sekolah, walaupun tidak kalah banyak yang tertarik ekskul Cheerleading dan Basket yang biasanya dikenal sebagai ekskul keren di SMA.
                Dua minggu kegiatan belajar mengajar berlangsung, jumlah murid di kelas Arra bertambah satu menjadi 34. Dina lah yang membuat angka itu menjadi genap, sehingga berarti semua akan mendapatkan teman duduk berpasangan karena jumlahnya yang tidak lagi ganjil. Dina sudah mendaftar di sekolah ini berbarengan dengan murid-murid lainnya. Namun Ia baru kembali lagi ke Indonesia dua hari lalu bersama orangtuanya.
                Arra termasuk orang yang supel sehingga Ia-lah yang paling cepat dekat dengan Dina  dan Arra pun bisa membuat suasana agar Dina tidak canggung di kelas barunya itu. Mereka menjadi sahabat dekat tetapi mereka juga tetap bergaul dengan teman-teman lainnya, agar tidak membuat mereka ansos atau anti social.  
                Sampai akhirnya, sesuatu yang lazim dirasakan murid-murid SMA mereka rasakan. Isi SMA merupakan anak-anak remaja yang belum sepenuhnya dewasa, namun sudah bisa berpikir untuk menaruh hatinya pada orang lain. Biasanya sih, orang-orang menyebutnya dengan masa-masa indah saat SMA.
                “Din, liat deh itu di sana.”
                “Liat apaan Ra? Guru Matematika kita yang ganteng? Atau guru Fisika yang killer banget?”
                “Bukan Din, itu lohh yang pake vest garis-garis biru, ganteng banget. Ketua ekskul apa ya dia? Lupa nih.”
                “Oh Kak Bima? Dia kan ketua Paskibra Ra, dia ramah banget orangnya.”
                “Kamu ikut ekskul itu kan Din? Kalo aku mau ikut juga boleh kan? Nanti pulang sekolah temenin aku daftar ya”, kata Arra semangat.
                “Arra yaampun, kalo ada maunya aja semangat banget.”
                “Ohiya daftarnya langsung ke Kak Bima ya jangan ke kakak yang lain, terus kenalin aku sama dia juga, hehe.”
                “Dia udah punya pacar Ra, nanti dimarahin pacarnya lohh.”
                “Ya biarinlah, tujuan aku kan cuma mau kenal bukan mau macarin Kak Bima Din”, jawab Arra memelas.
                “Hahahaha Arra, aku becanda dia masih single kok, tapi emang sih ada kakak kelas yang naksir dia dari dulu tapi dianya Stay Cool aja.”
                “Update banget sih kamu Din.”
                Keduanya lalu berjalan kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran selanjutnya. Materi kelas X memanglah belum seberat kelas XI dan XII, namun karena kurikulum baru yang dibuat pemerintah Arra dan Dina sering membaca buku-buku di perpustakaan hampir setiap istirahat atau kalau ada jam kosong, tidak hanya mengandalkan penjelasan guru di kelas.
                “Baik anak-anak pelajaran hari ini selesai, sampai bertemu besok”, pelajaran hari ini diakhiri  pelajaran Sejarah, banyak sekali murid tertidur di sudut-sudut kelas, apalagi di bagian belakang.
                “Aku ke OSIS dulu ya Din, nanti aku nyusul ke ekskulnya. Ada agenda penting hari ini.”
                “Okedeh Raa, aku duluan yaa. See you darl.”
                Arra sibuk menyiapkan acara Peringatan Bulan Bahasa bersama teman-teman lainnya, karena acara tinggal seminggu lagi.
                “Mana temen kamu yang waktu itu Din?” tanya Kak Bima.
                “Emm itu kak, Arra, dia masih di OSIS.”
                “Kapan dia bisa ngumpul ke sini? Takut banyak ketinggalan materi baru.”
                Sementara di sudut lain sekolah gadis berambut panjang yang sedang menyiapkan perlengkapan acara melihat jam di tangan kirinya, ahh sudah pukul 16.04. “Kak Lala, aku izin ya kak mau ke ekskul dulu”, kata Arra kepada koordinatornya.
                “Yasudah, tapi besok kamu datang pagi lagi ya, panitia lain juga.”
                “Okedeh kak siaap, makasih kak!”
                Arra berjalan cepat sekali menuju Sekretariat Paskibra lantai dua lalu bergabung dalam forum yang sedang dibuka oleh sang Ketua karena tidak mau ketinggalan momen-momen bertemu Kak Bima secara langsung. Kali ini mereka sedang membicarakan untuk rencana pengiriman beberapa anggota Paskibra  yang masih kelas X untuk mengikuti seleksi menjadi Paskibraka Tingkat Nasional, Provinsi, maupun Kota. Setelah mengetahui semua persyaratan yang harus dilaksanakan Arra pun tertarik untuk mengikuti seleksi tersebut dan kebetulan faktor tinggi yang dibutuhkan juga ada pada diri Arra.
                Kurang lebih seminggu tiga kali para calon yang akan mengikuti seleksi mengadakan latihan fisik di lapangan sekolah, terkecuali Arra yang sesekali izin karena Ia juga bertanggung jawab sebagai panitia acara-acara sekolah lainnya yang diselenggarakan oleh OSIS. Namun Kak Bima dan Kakak-kakak yang lain masih memakluminya karena waktu seleksi masih beberapa bulan lagi.
                “Hari ini dan besok kita libut latihan fisik ya, tapi kita ngumpul aja sharing-sharing.
                “Oh iya kak, okedehh makasih ya kak”, kata Arra semangat.
                “Semangat banget sih Ra mentang-mentang Kak Bima yang ngomong. Cuma kamu lohh yang suaranya kenceng, ahaha”, ledek Dina kepada Arra.
                “Apaan sih Din, haha enggak kok aku emang semangat aja kita udah mau seleksi. Semangat juga buat deketin Kakak vest garis-garis biru” 
                “Oh iya Arra, kakak belum punya kontak kamu, boleh minta nomor handphone-nya? Nanti biar gampang hubungin personalnya.”
                Ini mimpi apa bukan, pikirnya. Diam-diam, tangan kanannya mencubit pahanya sendiri. Aduh! Aku gak mimpi. “Oh iya boleh kak.”  Jawab Arra sambil terus melihat ke arah vest bermotif garis-garis biru itu.
                Awan kelabu mulai berdatangan, mendung sekali cuaca sore ini. Angin kencang pun beterbangan menerjang pohon-pohon. Dina sudah pulang siang tadi, maka Arra pulang sendirian jika sudah sore begini. Tiba-tiba, “Arra, ngapain di pos satpam sendirian?” Panggilan itu menghentikan lamunan Arra, “Eh Kak Bima?”
                “Kamu ngapain di sini? Kalau sore kamu jadi satpam?”, goda Kak Bima
                “Enggak. Ini kak, itu mendung, jadi itu, lagi nunggu di jemput aja”, jawab Arra terbata-bata.
                “Mau bareng kakak? Udah sepi loh sekolahnya nanti kamu kenapa-kenapa lagi.”
                “Ga usah kak, supir aku udah mau jalan kak,” lanjut Arra sambil pura-pura mengecek ponselnya.
                “Kamu punya supir? Kenapa biasanya naik bus ga di anter-jemput?”
                “Ehh iya kak, ga papa, lebih seru naik bus”, jawab Arra bingung. Darimana Kak Bima tau aku tiap hari naik bus, jadi selama ini Kak Bima merhatiin aku? Kata Arra dalam hati kegeeran. Arra menahan pandangannya ke arah bawah menahan bibirnya untuk senyum lebih lebar lagi.
                “Jadi mau bareng gak nih?”
                “Yaudah deh kak, aku bilang ke supir aku dulu.”
                Arra menaiki motor sport Kak Bima dan motor itu segera meluncur cepat kearah perumahan rumah Arra.
                “Gimana persiapan kamu buat seleksi?”
                “Udah disiapin kak nanti mau dicek lagi. Emm Abis ini belok kanan kak terus lurus aja.” Kak Bima hanya diam mendengarkan tanpa menganggapi.               
                “Makasih ya kak, mau masuk dulu kak?” tanya Arra ragu-ragu.
                “Nanti lain kali aja Ra. Duluan ya.”
                Motor Kak Bima hilang dari pandangan, Arra segera memasuki rumah sambil senyum-senyum sendiri. Untungnya mamanya sedang tidak di rumah, maka tidak ada yang memergokinya senyum-senyum sendiri selain pembantunya.
                Tas melompat ke tempat tidurnya, lalu Ia mengambil ponsel di saku bajunya dan mengetik nama Dina lalu menyentuh screen bertulis call. Arra asik bercerita dengan Dina membicarakan pemilik vest garis-garis biru itu.
                Tahun 2013 telah berganti menjadi 2014, maka semester baru pun dimulai. Arra dan Dina mendapatkan posisi yang masih teratas di kelasnya. Selain itu, mereka juga mendapatkan pengumuman bahwa mereka lolos tes seleksi calon Paskibraka tingkat Provinsi, orangtua mereka ikut bangga atas prestasi anak-anaknya itu, begitu juga orangtua murid-murid lainnya yang lolos seleksi. H-7 tanggal 17 Agustus 2014. Para calon Paskibraka yang sedang di asrama berlatih semakin sungguh-sungguh untuk menghindari kesalahan nanti, apalagi masing-masing membawa nama baik sekolah mereka.
                Susah payah para calon Paskibraka berbulan-bulan berlatih bersama. Jatuh bangun, tegang, sedih, serius, juga canda tawa mereka lalui bersama. Banyak pengalaman baru yang tidak bisa mereka dapatkan dimanapun, juga sikap dan attitude yang lebih baik.
                Akhir tahun lalu telah diadakan serah-terima jabatan seluruh ekskul di sekolah karena murid kelas XII tidak lama lagi mengikuti Ujian Nasional. Maka berakhirlah masa jabatan Kak Bima yang telah digantikan oleh Kak Ale.
17 Agustus 2014. Pagi-pagi sekali, Kak Ale dan sebagian besar anggota paskibra sudah standby di tempat upacara berlangsung. Upacara penaikan dan penurunan bendera di sore hari berlangsung lancar. Semua hadirin mengikuti upacara dengan khidmat. Semua lega karena yang ditunggu-tunggu telah selesai, apalagi para Paskibraka dan TNI yang bertugas pada kesempatan itu.
                Arra dan teman-teman lain yang telah selesai bertugas dan istirahat cukup, mereka kembali ke sekolah dengan suasana baru dan sambutan dari teman-teman karena bangga terhadap mereka. Tahun ajaran baru berarti juga Kak Bima telah lulus dari sekolah ini. Tak ada lagi Kak Bima yang menjadi penyemangatnya di sekolah.
Hari ini hari upacara pertama sekolah di tahun ajaran baru, di pengumuman pada akhir upacara di sebutkan nama-nama murid yang telah bertugas menjadi Paskibraka di tingkat Provinsi karena telah membawa nama baik sekolah. Juga setelah itu pengumuman dan pemberian sertifikat kepada Juara I, II, dan III perkelas di akhir tahun ajaran lalu.
                “Kelas X-IPA 5. Juara III Feandra Vanasya, Juara II Kris Dwi Ramadhan, Juara I…”
                Jantungku berdebar sangat cepat, aku sangat mengharapkan posisi itu walau kini Kak Bima tak ada di sekolah ini lagi untuk melihatnya.
                “Farrah Milananditaaa”, lanjut Ibu guru yang sedang membacakan pengumuman.
                Arra sangat senang karena di akhir kelas X Ia bisa mendapatkan posisi teratas di kelasnya. Lengkap sudah prestasi Arra di bidang akademik maupun non-akademiknya. Kali ini Dina berada empat peringkat di bawah Arra tidak naik maupun turun seperti semester sebelumnya. Namun Ia harus berlapang dada mengetahui Arra mendapatkan sesuatu yang lebih darinya.
                Lelah sekali hari ini di sekolah, sesampainya di rumah ia memutuskan untuk beristirahat di ruang tengah. Tiba-tiba ponselnya berbunyi tanda pemberitahuan masuk. Ada satu pesan yang belum dibaca.

      Selamat ya Ra, kamu sama teman-teman yang lain udah nunjukkin yang terbaik di pengibaran kemarin. Kalian gak cuma mengharumkan Paskibra angkatan kalian, tapi juga bawa nama sekolah kita. Jangan lupain ilmu-ilmu yang kalian dapat saat pelatihan, bagi-bagi ke teman-teman kalian yang lain. Ohiya aku denger-denger kamu juga juara I kelas ya? Selamat lagi yaa, jangan tinggi hati dan lengah karena udah dapat posisi itu. Tingkatin prestasi kamu, semangat Arraaa!!!
Sender : Kak Bima

Ya ampun, ini serius Kak Bima. Dari mana Kak Bima tau aku Juara I? Pasti kerjaannya Dina nih, aduhh jadi malu. Mau bales apa nih?
Belum sempat Arra membalasnya, masuk satu pesan baru.

Oh iya, malam ini kamu ada acara ga? Aku mau ngajak kamu ke café baru di deket perumahan rumah kamu.
Sender : Kak Bima

Kemudian muncul satu pesan di ponsel di seberang sana.

Eh boleh Kak, boleh. It will be fun, but tadi siang katanya Dina mau pergi sama kakaknya malam ini.
Sender : Arra

Oke, aku jemput jam 7 ya, jangan dandan natural udah cantik kok Ra
Sender : Kak Bima

Oh my God, is this really happen to me?  Ok, aku siap-siap aja ah nunggu di jemput kakak vest garis biru itu.

Tak berapa lama kemudian, motor sport Kak Bima telah terparkir di depan rumah Arra. Kak Bima memanglah Kak Bima, masih sama dengan vest andalannya bermotif garis-garis bitu. Kini Arra menyadarinya, bahwa sesungguhnya usaha yang Ia lakukan selama ini Ia kerjakan karena dirinya sendiri, bukan karena oranglain apalagi pemilik vest garis-garis biru itu. Membuat bangga orangtua ataupun masalah Kak Bima hanyalah hadiah dari hasil usahanya selama ini.

No comments:

Post a Comment