Tuesday, 30 September 2014

Sebenarnya Sama


Sudah seharusnya ikan berenang di dalam air, bukan di atas pepohonan rindang itu. Karena pepohonan adalah hak milik anak-anak burung untuk belajar terbang bersama saudara-saudaranya.

Lalu mengapa kita berada dalam tempat yang sama padahal seharusnya tidak? Kau ditakdirkan untuk berada di sana, bukan di sini dan bertemu denganku. Memang aku yang sedari dulu di sini dan mungkin tak akan pernah berpindah. Terdiam menunggu bintang-bintang itu berguguran dan menjadi milikku, entah sampai kapan. Bintang yang selalu bersinar dengan terang dan menarik tepat pada waktunya. Terang atas cahayanya sendiri, dan bisa ku ambil untuk menjadi cahayaku.

Tiba-tiba, kau datang menyuruhku menggapai bintang itu, tak lagi menunggu bintang-bintang itu berguguran dan siapa tau jatuh di pekarangan rumaku yang mungil ini. Sejak itu aku mulai percaya untuk bisa menggapai bintang itu. Aku mempunyai hak yang sama walaupun dengan keterbatasanku ini. Aku tak bisa lompat, berlari, atau bahkan sekedar berdiri sempurna seperti yang lain. Sekarang aku tersadar, aku masih mempunyai tangan yang bisa berkarya, juga otakku yang diciptakan Tuhan sama dengan yang lainnya.

Di sisi lain, mengapa aku masih ragu atas kehadirannya? Buat apa Ia menyia-nyiakan waktunya di sini bersamaku? Tuluskah hatinya untuk berada di sini? Lebih baik aku pendam rasa ragu itu dan kubiarkan mengalir dahulu agar keadaan tetap seperti biasa.

 

To be continued…

No comments:

Post a Comment