Sudah seharusnya ikan berenang di dalam
air, bukan di atas pepohonan rindang itu. Karena pepohonan adalah hak milik
anak-anak burung untuk belajar terbang bersama saudara-saudaranya.
Lalu mengapa kita berada dalam tempat
yang sama padahal seharusnya tidak? Kau ditakdirkan untuk berada di sana, bukan
di sini dan bertemu denganku. Memang aku yang sedari dulu di sini dan mungkin
tak akan pernah berpindah. Terdiam menunggu bintang-bintang itu berguguran dan
menjadi milikku, entah sampai kapan. Bintang yang selalu bersinar dengan terang
dan menarik tepat pada waktunya. Terang atas cahayanya sendiri, dan bisa ku
ambil untuk menjadi cahayaku.
Tiba-tiba, kau datang menyuruhku menggapai
bintang itu, tak lagi menunggu bintang-bintang itu berguguran dan siapa tau
jatuh di pekarangan rumaku yang mungil ini. Sejak itu aku mulai percaya untuk
bisa menggapai bintang itu. Aku mempunyai hak yang sama walaupun dengan keterbatasanku
ini. Aku tak bisa lompat, berlari, atau bahkan sekedar berdiri sempurna seperti
yang lain. Sekarang aku tersadar, aku masih mempunyai tangan yang bisa
berkarya, juga otakku yang diciptakan Tuhan sama dengan yang lainnya.
Di sisi lain, mengapa aku masih ragu
atas kehadirannya? Buat apa Ia menyia-nyiakan waktunya di sini bersamaku? Tuluskah
hatinya untuk berada di sini? Lebih baik aku pendam rasa ragu itu dan kubiarkan
mengalir dahulu agar keadaan tetap seperti biasa.
To be continued…
No comments:
Post a Comment